wish.
hope.
dream.
Those words are so magical, and powerful it injects 'life' to the minds of the hopeless.
At the moment, I am one of the hopeless, but I never stopped to wish, to hope, to dream that in this moment of hopelessness, I'd get out of it, and there will be light for me in the end of the tunnel. There will be...meanings in life, equates to happiness, to be able to smile and laugh wholeheartedly without the fear of that smiles and laughs are forced emotions to appear non-hopeless at the sight of my immediate family, my beloved parents and most importantly my 3 year old daughter.
I need to write this, I need to flushed out these thoughts that is constantly beguiling my minds.
Until I find the end of this 'tunnel' of hopelessness, I will keep 'pretending' the smiles and laughs, not merely contented inside though I still hope, wish, dream that by immersing myself in those situations capable of triggering my endorphins to make me feel better, masking all the worries, suppressing all the tears, eradicating all the bad thoughts omnipresent in my right pre-frontal cortex.
AND for that I won't stop wishing, hoping, dreaming.
May Allah make it easy for me...For that is my wish, that Allah make it easy for me, that is my hope that things will get the way I wished it'd be, and dream Allah will turn my dreams into reality.. Amin.
If people say be careful what you wish for, for the things I've wished for I refused to be careful, I want to be care-less. I want it all. I want the divine powers to grant me that wish, hope and dream.
For He knows best. He knows what is the truest of truths, the dreams of dreams, the wants of wants, the hopes or are those wishes, hopes and dreams are just mere wanton of selfishness. Allah knows best.
where I stripped naked - in words without cloak of anonymity nor cobwebs of ignorance and hope to be a bona fide optimist.
Thursday, June 21, 2012
Wednesday, June 20, 2012
Be wary be careful
I just got one thing to say much to my reluctance, that I am
reverting several of my posts to drafts, in the light of the new
Evidence Act effective June 2012.
As I am writing about the blogosphere and its challenges to the regime security for my thesis (yet to be completed), I have find myself in the liberty of delving into the scopes of our sociopolitical landscape and its relating laws.
Though my convictions are not important, the same way this blog is - however since the Evidence Act amendments do 'transfer' the burden of proof of innocence to the charged person, I am therefore acting in the maxim of "better be safe than sorry", thus removing any materials that could implicate me into the provisions of that law is much reduced or removed altogether.
And, I hope the same will apply to you folks out there (save the "this utter draconian law, we want more freedom of expression, etc etc"), until that it actually achieved, if you are prepared to go to the court and forked out large sum of money for legal advice and representations, I'd say- drop any 'allegedly' or 'seemingly' malicious contents whatsoever, unless you are really some hot-shot cyberspace 'celebrities'.
In fact, I might as well just terminate this blog altogether and start a new, refreshed, and using a pseudonym instead of a blog that shouts my name in the face. Yeah, again, I know, not that I am iota famous BUT I've had my fair share of blogosphere-related 'brushed' with conflicts, and enough said, you never know who is out there reading/stalking/trolling this space. But that will only be done once I started that new job, InsyaAllah. OH my atarashii no shigoto, getting to you is so mendokusai to muzukashii kana,zannen ka....O Allah give me strength and yeah again want to repeat my thank-yous to one old mate of mine whom of all pals I have known, had willingly lent his ears (it was eyes rather :D ) to console me via the Internet when no one else would. Indeed, that old mate's offer of solace is much needed and to get from someone you least expected is scarce.
As I am writing about the blogosphere and its challenges to the regime security for my thesis (yet to be completed), I have find myself in the liberty of delving into the scopes of our sociopolitical landscape and its relating laws.
Though my convictions are not important, the same way this blog is - however since the Evidence Act amendments do 'transfer' the burden of proof of innocence to the charged person, I am therefore acting in the maxim of "better be safe than sorry", thus removing any materials that could implicate me into the provisions of that law is much reduced or removed altogether.
And, I hope the same will apply to you folks out there (save the "this utter draconian law, we want more freedom of expression, etc etc"), until that it actually achieved, if you are prepared to go to the court and forked out large sum of money for legal advice and representations, I'd say- drop any 'allegedly' or 'seemingly' malicious contents whatsoever, unless you are really some hot-shot cyberspace 'celebrities'.
In fact, I might as well just terminate this blog altogether and start a new, refreshed, and using a pseudonym instead of a blog that shouts my name in the face. Yeah, again, I know, not that I am iota famous BUT I've had my fair share of blogosphere-related 'brushed' with conflicts, and enough said, you never know who is out there reading/stalking/trolling this space. But that will only be done once I started that new job, InsyaAllah. OH my atarashii no shigoto, getting to you is so mendokusai to muzukashii kana,zannen ka....O Allah give me strength and yeah again want to repeat my thank-yous to one old mate of mine whom of all pals I have known, had willingly lent his ears (it was eyes rather :D ) to console me via the Internet when no one else would. Indeed, that old mate's offer of solace is much needed and to get from someone you least expected is scarce.
Labels:
blogosphere,
Evidence Act
Wednesday, May 2, 2012
if the previous one, sound 'racist' then here's a different p.o.v. from a chinese, still want to call him racist?
Disclaimer: All credits goes to Professor Madya Dr Mohd Ridhuan Tee Abdullah as this is taken from his blog
Bolehkah sejarah Melayu dipadamkan?
(Sinar Harian 16 Apr 2012)
Setiap kali bila isu pendidikan vernacular disentuh, saya
diserang habis-habisan. Kedua ibu bapa saya, terutama ibu saya yang baharu
sahaja meninggal, dihina dan dikutuk, menggunakan perkataan yang amat lucah.
PengIslaman sayapun dikeji. Perkataan khitan (bersunat) dipermain-mainkan,
hanya kerana saya tidak kulup lagi. Sehingga Yang di-Pertuan Agong yang tidak
bersalah pun dibabitkan sama. Lebih serius lagi, ada ugutan mencederakan saya. Jika
di Singapura, tempat yang menjadi pujian dan pakatan ultra kiasu, sudah lama
mereka ini dihumban ke dalam penjara. Tetapi di negara kita, begitulah
keadaannya, ‘terlalu bertoleransi’ kerana takut hilang kuasa.
Persoalannya, di mana salah saya? Apakah yang dilontarkan
itu tidak benar? Jika menyimpang, perbetulkan. Itu baru namanya, kita orang
yang bertamadun. Bukannya menganggap diri bertamadun, tetapi berpelakuan amat
hina, berfikiran dan bertindak seperti
orang hilang akal. Kenapa diri atau peribadi yang diserang, bukan hujah yang
dibahaskan? Saya menghormati mereka yang berlapang dada dan dapat
membincangkannya dengan baik.
Baiklah, jika masih tidak berpuas hati, saya akan ulangi
apa yang telah ditulis sebelum ini. Buktikan kepada saya di manakah negara
dalam dunia ini memberikan kebebasan mendapat pendidikan perkauman sebegini
rupa? Ataupun sekurang-kurangnya
menyamai sedikit apa yang dilakukan oleh negara kita? Tidakkah Malaysia adalah
syurga kepada kaum selain Melayu dalam mengekalkan identiti dan jatidirinya? Kita
terus kekal seperti mana asalnya, tanpa langsung diusik dan dijentik. Anak
Cina/India kekal tulen Cina/India, malah lebih Cina dari di China. Di China pun
tidak ada kebebasan dan tidak setulen seperti ini? Apa lagi yang kita mahu?
Bumiputera Sabah dan Sarawak yang mempunyai lebih hak pun jarang bertindak
seekstrem kita hari ini.
Saya harap pihak berkuasa tidak akan tunduk demi masa
depan negara tercinta ini. Jika kita tunduk, maka tergadailah maruah dan jati
diri sebuah negara yang terletak di kepulauan Melayu. Apakah mungkin manusia
mati meninggal nama? Pada saya, jika harimau mati meninggalkan belang, gajah
mati meninggalkan gading. Apakah mungkin Melayu mati, di mana tulangnya?
Sepuluh jari saya susun jika orang Melayu tersinggung dengan tulisan ini. Terimalah
muhasabah ini dengan lapang dada, kerana ikatan agama kita teramat kuat
daripada ikatan bangsa membuatkan saya berani bersuara.
Saya sudah tidak rasa diri berbangsa, kerana Islam
mengajar saya, Allah tidak akan tanya dikubur nanti, apa bangsa kamu! Cina atau
Melayu! Tetapi pertanyaan yang amat takut tidak dapat dijawab, walaupun
soalannya telah bocor, adalah “siapakah Tuhan kamu”? “Apakah agama kamu”? dan
sebagainya. Wahai rakan seagamaku, percayalah dalam hati ini, tidak ada
kepentingan lain, melainkan untuk melihat agama Islam dan umatnya, dibela dan
terbela, disanjung dan dijunjung, terus kekal di bumi bertuah ini. Bukannya,
dihina dan dipijak-pijak. Saya sudah tidak hirau lagi dituduh pengkhianat,
hatta disuruh jangan lagi menggunakan surname
TEE.
Saya tidak pernah diupah oleh Umno untuk menulis, mahupun
menerima habuan Umno atau pihak ketiga. Saya tidak akan bersuara, jika semuanya
teratur dan berjalan dengan baik. Saya tidak mahu mencari masalah. Saya mahu
hidup aman, bebas dari kutukan, makian, hinaan dan cercaan orang lain. Namun,
apakan daya, selagi Islam dan umatnya tidak terangkat dan terdarjat, selagi
itulah perjuangan tidak selesai. Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan dan
membuka hati kita semua. Ia perlu dilakukan dengan cepat, kerana masa tidak
menunggu kita. Jika kita terus berpolitik, saya bimbang, kesempatan mungkin
tidak datang untuk kali kedua. Sementara berkuasa, lakukanlah yang terbaik
untuk agama, bangsa dan negara.
Ultra kiasu sudah menjadi terlalu kuat. Semakin terus
menggunakan segala ruang dan peluang pada waktu kritikal ini, kerana mereka
takut ruang dan peluang ini mungkin tidak datang lagi, walaupun mereka tahu
ruang dan peluang itu masih terbuka luas, dengan adanya orang Melayu Islam yang
belot bersama mereka, sepakatan dengan mereka. Justeru, wahai saudaraku, sekali
lagi saya paparkan apa yang telah diberikan selama ini, selain daripada
tuntutan ultra kiasu yang terbaru. Bacalah, saya tidak akan ulangi lagi.
Pertama, SJKC sebenarnya tidak boleh disentuh sejak
kewujudannya. Kita hanya berjaya menyeragamkan silibus pelajaran daripada
berkiblat negara asal kepada silibus kita. Itupun masih lagi dipersoalkan,
kerana penyeragaman itu tidak berlaku secara menyeluruh kerana kita terus
tunduk. Subjek Bahasa Melayu walaupun
telah diseragamkan, tetapi teksnya tidak sama berbanding aliran kebangsaan.
Bahasa Melayu di SJKC/T lebih mudah, berbanding sekolah kebangsaan.
Penyeragamanya ditentang oleh ultra kiasu kerana jika diberatkan bahasa Melayu,
penguasaan bahasa ibunda akan berkurang.
Kedua, cadangan penambahan waktu pengajaran dan
pembelajaran (P&P) bahasa Melayu di SJKC juga gagal. Cadangan kerajaan
ditolak mentah-mentah. Alasannya, jika ditambahkan waktu P&P bahasa Melayu,
ia akan mengambil ruang masa subjek bahasa ibunda. Penguasaan bahasa ibunda
akan terjejas.
Ketiga, cadangan P&P subjek sejarah (Malaysia
Negaraku) di sekolah rendah, untuk meningkatkan semangat patriotism. Pun tidak
berjaya. Jika subjek ini mahu diajarkan juga, mesti diajar dalam ibunda, bukannya
dalam bahasa Melayu, kerana akan menjejaskan penguasaan bahasa ibunda.
Keempat, kegagalan Sekolah Wawasan. Semua Sekolah Wawasan
yang telah didirikan gagal untuk menarik perhatian orang Cina. Alasannya,
percampuran dengan orang lain, akan mengurangkan penguasaan bahasa ibunda. SJKC
mesti beroperasi dengan penuh kecinaan, baru murid-murid dapat menjadi Cina
tulen.
Pokoknya, mereka tidak mahu menjadi Cina Pisang. Titik. Mereka
mahu jadi secina cinanya. Persoalannya, apakah tindakan sebegini baik untuk
pembinaan sebuah negara bangsa? Mereka tidak mahu dikaitkan dengan Melayu.
Dengan orang putih tidak mengapa.
Pendek kata, ultra kiasu langsung tidak mahu bahasa
ibunda mereka cair. Sebarang gugatan akan ditentang habis-habisan, tanpa
memikirkan agenda negara. Pada mereka, biarlah anak-anak mereka langsung tidak
tahu berbahasa Melayu, asalkan mereka mesti tahu berbahasa Cina.
Fikirkanlah wahai pemimpin sekelian. Benar, undi dan
pengekalan kuasa penting. Tetapi fikirkanlah kepentingan agenda membina negara.
Saya tidak menjadi masalah atau tidak pernah risau, jika perkara ini berlaku di
negeri China, tetapi ingatlah kita berada di Malaysia, perkataan ‘Malay’ itu
masih wujud, dengan sedikit penambahan perkataan ‘Sia’. Jika tidak berlaku
kemasukan Sabah dan Sarawak, negara ini akan terus kekal dengan nama Tanah
Melayu. Bayangkan jika perkara ini terus berlaku, sedangkan namanya masih kekal
Tanah Melayu. Bolehkah sejarah ‘Tanah Melayu’ dipadamkan begitu sahaja?
Ayuh! Gerakkan segera 1Melayu, 1Bumi
Disclaimer:
This is a re-post from Dari Kacamata Melayu all credits to the blogger. However, it goes to the record, I am sharing the blogger's view. It is the Malays themselves who will destroy their own kind - in the only way that is left to them in this country - THE POLITICAL POWER. Once that is GONE, and TAKEN AWAY, we will be left with nothing, NOTHING! this is the main motivation of the chauvinistic DAP party, who is the MAIN actors/leaders of the PAKATAN RAKYAT alliance; not PKR, and definitely NOT PAS. If you are a MALAY and still can't see this, i am sorry you are the biggest fool and at risk of destroying your own country, your own kind. I stand by my conviction, in the ways i have written before during the last BERSIH 2.0 , read here Malaysians Should Thank Anwar Ibrahim
Again, I reiterate, and urge all Malays (especially those stout supporters of the opposition party) that they should be reading Tun M's magnum opus - "the Malay Dilemma" book, if they haven't because that "senile" old man that you guys so unabashedly called, is truly a visionary statesman and he has foresee the troubles or the 'ingredients' to a disaster nation. Please wake up people, Malays, and smell the air of this dirty politics at play. If you don't do this, alas, Malaysia will be the next Singapore in terms of the Malays' survival because it is a FACT, DAP is the junior of PAP - the party that's ruling Singapore. United we stand, DIVIDED we fall.

Oleh Zaini Hassan
ORANG Cina telah bersatu. Keputusan Pilihan Raya Negeri Sarawak telah membuktikannya. Malah, sebenarnya orang Cina telah pun bersatu sejak dulu lagi.
Perkembangan politik muaasir (kontemporari), selepas era-Mahathirisme dan semasa era-Abdullahisme telah membuktikan ikatan orang Cina lebih utuh dan berpadu. Hubungan kekitaan, kekeluargaan serta brotherhood dan ukhwah orang Cina lebih erat, tanpa boleh ditandingi oleh mana-mana kaum di atas muka bumi Malaysia ini.
Walaupun antara mereka berlainan haluan politik, tapi apabila sampai masa menentukan arah untung nasib kaum Cina – mereka akan bersatu atas pangkahan undi yang sama. (kenyataan ini amat benar sekali jika kita merenung balik kenyataan yang pernah dibuat oleh Presiden MCA Chua Soi Sek bahawa MAC tetap akan bersama DAP jika apa yang diperjuangkan oleh DAP itu membabitkan kepentingan kaum Cina)
Dalam ekonomi, mereka membantu antara satu sama lain. Dari sekecil-kecil ekonomis kepadalah yang sebesar-besarnya, mereka akan tolong-menolong antara satu sama lain.
Budaya telah berjaya menyatupadukan orang Cina. Dalam masyarakat Cina tiada istilah bidaah yang boleh memesongkan mereka daripada soal budaya dan adat resam bangsa. Bahasa Cina diangkat tinggi, malah ada yang kata orang Cina yang tidak boleh membaca Cina pun akan turut membantu membeli akhbar Cina. Maka itu, akhbar Sin Chew Jit Poh – suara keramat orang Cina, menjadi antara akhbar yang paling tinggi edaran dan keuntungannya di Malaysia.
Sekolah Cina terus dijadikan sebagai cagaran politik utama – yang tidak boleh dikompromi sama sekali.
Pendek kata, orang Cina sebenarnya amat beruntung sekali berada di bumi Malaysia ini. Mereka telah menguasai segala-galanya. Sepuluh teratas orang mereka adalah bilionaire Malaysia. Sebahagian besar kedai yang ada di atas muka bumi Malaysia ini milik mereka. Hampir semua pelajar yang belajar di universiti swasta dan IPTS ternama dan mahal-mahal di negara ini rata-ratanya orang mereka.
Saya telah nyatakan perkara itu dalam Cuit bertajuk Apa lagi orang Cina mahu? tahun lepas. Tulisan itu dipetik sepenuhnya oleh akhbar Straits Times Singapura dan surat pembaca yang saya terima dari republik itu menyokong penuh tulisan itu.
Apa yang saya katakan ini adalah hakikat atau fakta.
Hanya kuasa mutlak politik yang belum dikuasai sepenuh oleh orang Cina, yang lain semua sudah. Kini DAP membawa slogan yang cukup hebat di kalangan masyarakat mereka iaitu Undi untuk Ubah, Enough is Enough (Cukuplah) dan Selamatkan Malaysia.
Slogan itu sebenarnya bukan ditujukan kepada orang lain, tapi khususnya kepada orang Cina. Terpapar megah di dada baju penyokong dan calon DAP dalam pilihan raya Sarawak supaya diubah kepimpinan Melayu Malaysia ini.
Terus terang saya katakan, saya amat menyanjungi orang Cina. Mereka mempunyai matlamat dan masa depan yang cukup jelas. Walaupun tindakan itu berbau politik atau bukan, soalnya mereka cukup bersatu. Politik digunakan sebaik-baik mungkin untuk menyatupadukan kaum itu.
Kita jangan salahkan DAP. Apa yang DAP lakukan itu amat betul untuk masa depan kaumnya. Jika Pas dipergunakan oleh DAP untuk memecahkan bangsanya sendiri, itulah operatif licik DAP.
DAP telah berjaya menjadi parti Cina yang telah menyatupadukan orang Cina. MCA gagal dan SUPP pun gagal. Itu hakikat atas kertas. Malah seorang sahabat saya berbangsa Cina, pengarang sebuah akhbar ternama bersetuju bahawa orang Cina kini ke arah menyokong pembangkang. Pilihan Raya Umum Ke-13 akan digunakan sepenuhnya untuk menyatukan kuasa mereka.
Sebaliknya apa yang orang Melayu buat? Tiada apa-apa. Mereka ialah satu bangsa yang cukup selesa, komplesen, alpa dan tidak peduli. Malah pemikiran mereka cukup bercelaru.
Apa yang harus UMNO lakukan? UMNO harus berfikiran seperti DAPkah?
Pandangan saya, apa yang UMNO harus lakukan sekarang, di masa yang amat terdesak sekarang, ialah melancarkan gelombang perpaduan bangsa – 1Melayu, 1Bumi.
Lancarkan segera 1Melayu, 1Bumi dalam lingkungan UMNO dan parti-parti Melayu yang lain.
Jika Pas degil dan tidak mahu ikut serta, gabungkan dengan puluhan NGO-NGO Melayu yang kini tumbuh bagaikan cendawan di atas bumi Malaysia ini. Perlu diingat NGO-NGO itu wujud kerana mereka dahagakan wadah perjuangan untung nasib bangsa semakin ditinggalkan. UMNO harus tarik pertubuhan sukarela ini ke hadapan dan menjadi juara semula dalam soal ini.
Persetankan Pas yang ternyata telah menggadaikan perjuangan bangsa Melayu untuk kepentingan politik totok mereka. Hairan sungguh, para penyokong Pas akan menjadi lebih kuah daripada sudu semasa berkempen, dan mereka tidak pernah sedar bahawa secara senyap-senyap DAP cukup strategik mempermainkan mereka.
Saya kira, sekiranya lima kerusi Pas di Sarawak itu ditandingkan di kawasan Cina sudah pasti mereka akan menang dan ada wakil dalam dewan undangan negeri. Tapi DAP telah mempermainkan mereka. Pas diletakkan di kawasan kaum bumiputera, bagi membolehkan kaum bumiputera terus berpecah. Pas seperti biasa, tidak sedar semua itu.
Dalam usaha meniupkan gelombang 1Melayu, 1Bumi, tidak salah 1Malaysia diteruskan kerana ia adalah dasar jangka panjang negara. Parti komponen Cina dalam BN pun tidak akan marah jika UMNO melancarkan gagasan 1Melayu, 1Bumi kerana bagi mereka orang Cina telah pun bersatu.
Tidak salah bagi orang Melayu melancarkan seruan 1Melayu, 1Bumi kerana orang Melayu sendiri belum bersatu.
Dalam tulisan-tulisan saya sebelum ini, saya ada mengatakan orang Melayu berpecah kepada enam golongan. Melayu UMNO, Melayu Pas, Melayu PKR, Melayu DAP, Melayu Liberal dan Melayu Atas Pagar.
Orang Melayu cukup berpecah. Orang Cina tidak akan marah sekiranya orang Melayu bersatu kembali. Mungkin DAPlah yang tidak selesa kerana matlamat mereka untuk memecah-belahkan lagi orang Melayu akan gagal.
Bagi DAP, selagi konsep Malaysia Malaysian mereka tidak berlaku, selagi itu mereka akan berusaha keras untuk menjayakannya.
UMNO harus meniupkan gagasan 1Melayu, 1Bumi ini segera. Orang Melayu harus disatukan segera bagi memastikan mereka menguasai semula politik yang semakin terhakis daripada tangan mereka.
Walaupun Melayu berpecah, namun ada lagi suara-suara segelintir yang amat sayangkan bangsa. Seorang sahabat umpamanya, menghantar SMS semasa tulisan ini ditulis berbunyi: “Tolong tulis...BN jangan lagi bagi kawasan majoriti Melayu kepada wakil MCA, Gerakan dalam PRU akan datang... cukup sudah pengorbanan UMNO yang dibalas dengan tuba. MCA dan Gerakan WAJIB akur kerana kalau mereka kalah dengan DAP, wakil mereka tak perlu dilantik dalam kerajaan...”
Itu ialah suara marah. Orang Melayu marah. Tapi kita harus rasional. Susun semula barisan dan gelombang satukan orang Melayu.
Saya bercakap bagi pihak bangsa saya. Gagasan inilah yang turut dimainkan oleh sahabat saya, saudara Ridhuan Tee Abdullah, seorang mualaf Cina yang cukup kental jiwa ultra-Melayunya. Orang Cina amat tidak menggemari beliau di atas semangat assabiyah Melayu beliau itu.
Namun bagi Ridhuan, dan orang Melayu yang lain, mereka amat khuatir dengan perkembangan mutakhir yang berlaku di negara ini sekarang.
Namun, penghargaan harus diberi kepada kaum bumiputera Sarawak yang telah melaksanakan tanggungjawab mereka dengan begitu betul sekali.
Saya angkat topi kepada kaum bumiputera Sarawak yang dilihat lebih matang daripada orang Melayu di Semenanjung. Sekiranya mereka tidak bersatu dalam pilihan raya 16 April lalu, maka Sarawak sudah tentu akan jatuh ke tangan orang lain.
Orang bumiputera Sarawak telah memberi satu petunjuk yang amat berharga supaya diikuti oleh kaum Melayu di Semenanjung.
Namun, orang Melayu Semenanjung berpecah enam. Mereka masih lagi berpecah enam.
Oleh itu menjadi kewajipan UMNO; atas nama pejuang-pejuangnya yang terdahulu; dan sebagai parti induk orang Melayu; lancarkan segera slogan 1Melayu, 1Bumi bagi menggerakkan semula gelombang kebangsaan bangsa itu.
Melayu harus dan wajib disatukan kembali sebagaimana kita mahu satukan orang Malaysia di bawah semangat 1Malaysia. Tiada makna adanya 1Malaysia, jika orang Melayu sendiri pun berpecah.
Kini terletak dalam tangan UMNO untuk menentukan hidup atau mati bangsa ini.
Orang Cina sudah ada 1Cina dalam erti kata tersendiri. Orang Melayu pun perlu ada 1Melayu, 1Bumi. Ayuh gerakkan!
Subscribe to:
Posts (Atom)